SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan (Journal of Humanities and Social Sciences Education), with ISSN 1979-0112, was firstly published on May 20, 2008, in the context to commemorate the National Awakening Day in Indonesia. For period 2013 to 2018, the SOSIOHUMANIKA journal has been accredited by Ditjendikti Kemdikbud RI (Directorate-General of Higher Education, Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia). Since issue of May 2014 to date, the SOSIOHUMANIKA journal has jointly been organized by the Lecturers of LP2M UNHAS (Institute for Research and Community Service, Hasanuddin University) in Makassar, South Sulawesi and PPs UNIPA (Graduate Program, University of PGRI Adibuana) in Surabaya, East Java; and published by Minda Masagi Press as a publishing house owned by ASPENSI (Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, Indonesia.

Foreword, Sambutan, dan Prakata

SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan
Volume 7(2) November 2014


Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu
A Honorable Patron of the SOSIOHUMANIKA Journal in Bandung, West Java; and
Rector of UNHAS in Makassar, South Sulawesi, Indonesia.

I welcome that this SOSIOHUMANIKA journal, issue of November 2014, can be published on time and meet readers on a regular basis. It is an achievement that should not be underestimated due to publishing the scholarly journal does require commitment and seriousness of the journal‘s managers. And the SOSIOHUMANIKA journal currently has presented the diverse articles, not only on its content but also the authors who come from various countries, such as from Indonesia, Malaysia, India, and Finland.

The authors of Indonesia have more studied about the problems and its solutions pertaining to history, education, moral, language, and environment, such as: “The Dutch Diplomacy and Military Expedition against the Three Local Kingdoms in South Sulawesi, 1824-1860” (Abd Latif); “Theoretical Analysis on the Ethnopedagogy of Citizenship Education as a Vehicle of Cultural Education and Nation Character in Higher Education Institution” (Nurul Zuriah); “Conflicts among the Local Political Elites in South Sulawesi: A Historical Perspective” (Jayadi Nas); Language Psychology Approach on Language and Literature’s Learning Process: A Model to Educate the Nation (Gusdi Sastra); “Multicultural Education Concept Development Through the Joy of Learning, Creative, Independent, and Noble Character to Establish the Entrepreneurial Spirit in Indonesia” (Suryaman); “The Role of Tudang Sipulung/Appalili’s Culture and its Affected Factors to Change the Cultural Value of Agriculture in South Sulawesi” (Alham R. Syahruna, Rosman Md Yusoff & Masykur Amin); “Stakeholder Analysis of Mangrove Management in Tangerang Coastal District, Banten, Indonesia” (Muzani); “Making the Educational Institution as Medium for Developing the Local Language: A Study on Developing the Sundanese Language at the Educational Institution in Bandung City” (Nunuy Nurjanah); Developing the Social Simulation Model in Learning Civics of Social Studies Context: An Increasing Effort of Democratic Attitudes to Students” (Ana Andriani); and “Globalization and its Implications for the Field of Education in Indonesia: Between Challenge and Response” (M. Subandowo & Andi Suwirta).

The authors of Malaysia (Ismail Mat Tahir & Shaharuddin Ahmad) have studied on the “Impacts of Tsunami on the Coastal Countries of the Pacific Ocean”. As stated by the authors that tsunami is a disaster that threatens beaches around the world that occurs in all oceans of the world, including the Mediterranean, the Atlantic, Indian, Pacific, and also in the great lakes. Therefore, this study aimed to identify the impact of tsunami on the rate of deaths occurring in several countries of the Pacific area. What also important in findings is that the tsunamitragedy clearly could affect population’s demographic system.

Meanwhile, the author of India has been talking about the “Tibetan Opera: A History”. It is interesting to stress here that the history of Tibet can be traced back to thousands of years ago, but the written history dates back to 7th century during the reign of Songtsen Gampo. The first human who appeared in the highest plateau was surrounded by mountains and forest. They were known as Tibetan. Meanwhile, Tibetan Opera reflects the past and keep the history, cultural, and religion of Tibet alive. The word Lhamo in Tibetan denotes Goddess. Tibetan Opera was known as Lhamo. Because it was believed that when Opera was first performed, there were seven ravishing girls who sang with high-pitched voice in an open air and Thang-stong rGyalpo played the accompanying cymbals and drum.

And last but not least, the author of Finland has been studying about the “Humane Euthanasia in Farm-Raised Foxes”. Although this study did not relate directly with the discipline of humanities and social sciences education, but its implication has had relation with social and policy matters. As stated by the author (Hannu T. Korhonen) that the Council Regulation on the protection of animals during killing, No.1099/2009, came to apply from 1st January 2013 onwards. This regulation lays down rules for the killing of animals bred for the production of food, wool, fur, or other products as well as the killing of animals for the purpose of depopulation and for related operations. The Council Regulation also emphasizes the meaning of education, competence, and self-monitoring as means to improve the welfare of animals during killing.

So, I think, all articles presented in the SOSIOHUMANIKA journal currently are very important to trace the development of humanities and social sciences disciplines. So diverse and rich about studying of these disciplines, there is the impression that anyone who has an interest and concern for social and cultural issues can express the ideas and studies with the scientific approach and methods. Indeed, there is also an impression, which is different from the disciplines of Science and Technology, that the discipline of humanities and social sciences is very “environmentally friendly”, in the sense of opening the door wide to anyone who cares and wants to share his/her knowledge and experience on issues of social and humanity, as well as a solution to it.

Finally, as Rector of UNHAS (Hasanuddin University) in Makassar, South Sulawesi, I would like to thanks to the Minda Masagi Press, a publishing entity owned by ASPENSI (the Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung, West Java, due to cooperate in publishing this SOSIOHUMANIKA journal. In the globalization era, an institution or an individual cannot stand alone without the assistance and cooperation with other institutions or individuals. So, publishing the SOSIOHUMANIKA journal is a form of mutual cooperation for the advancement of humanities and social sciences education‘s discipline.

Makassar, South Sulawesi, Indonesia: November 20, 2014.

SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan

Volume 7(2) November 2014


Haji Sutijono, M.M.
Pelindung Jurnal SOSIOHUMANIKA di Bandung, Jawa Barat; dan
Rektor UNIPA di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Pada tahun 2010, empat tahun yang lalu, PPs UNIPA (Program Pascasarjana, Universitas PGRI Adibuana) di Surabaya mengundang para Dosen dari Fakultas Pendidikan UM (Universitas Malaya), Kuala Lumpur, Malaysia untuk mengadakan Seminar Bersama di Kampus UNIPA Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Dalam seminar itu setiap pembicara menyajikan makalahnya dalam bahasa nasional masing-masing; dengan demikian, ada yang menyajikan dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu, dan Bahasa Inggris.

Apa yang menarik dari peristiwa Seminar Bersama itu, bagi saya, adalah fakta bahwa ketika pembicara menggunakan Bahasa Inggris, yang dipandang sebagai “common language” bagi bangsa-bangsa di Asia Tenggara, tidak menimbulkan masalah karena para peserta memiliki pengertian dan persepsi yang sama. Namun, ketika pembicara menyampaikan makalahnya dalam Bahasa Indonesia atau dalam Bahasa Melayu, ternyata ada masalah besar karena beberapa kata atau kalimat yang sama, baik dalam Bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Melayu, memiliki makna dan penafsiran yang berbeda. Begitulah, misalnya, ketika pembicara dari Indonesia menyatakan “penelitian ini butuh waktu enam bulan”, maka peserta dari Malaysia mengerutkan keningnya tanda tidak mengerti, sebab kata “butuh” adalah sesuatu yang tabu dibicarakan di depan umum. Begitu juga ketika pembicara dari Malaysia menyatakan “penyelidikan ini mengguna-pakai kaedah temubual”, maka peserta dari Indonesia juga tidak habis pikir, bagaimana mungkin penelitian yang serius itu “membual” atau berkata bohong alias tidak jujur?

Contoh kasus di atas semakin diperkuat oleh pernyataan Prof. Dr. Saedah Siraj, Guru Besar dari Fakultas Pendidikan UM Kuala Lumpur, kepada saya bahwa sebenarnya bagi orang Malaysia, kalau mendengarkan orang Indonesia berbicara, hanya 50% saja dimengerti dan sisanya tidak nyambung atau tidak dimengerti. Saya pikir, keadaan yang sama juga berlaku bagi orang Indonesia, betapa kita tidak mengerti maksud orang Malaysia ketika mengatakan “kami nak menjemput tuan/puan untuk pusing-pusing Putra Jaya dan tengok ibu pejabat Perdana Menteri Malaysia di sana”. Kita baru sadar ketika dijelaskan bahwa “menjemput” artinya mengundang, “pusing-pusing” artinya keliling-keliling, dan “ibu pejabat” artinya kantor utama.

Saya pikir banyak contoh kasus yang lainnya, dimana komunikasi antara orang Indonesia dan orang Malaysia, dalam banyak hal, tidak nyambung. Dan ini adalah masalah besar ke masa depan, kalau kita ingin menjadikan Bahasa Indonesia/Bahasa Melayu sebagai bahasa dunia. Berbeda dengan Bahasa Inggris di Amerika Serikat dengan di Inggris sendiri, atau di tempat-tempat lainnya di dunia, dimana bahasa ini tidak mengalami perbedaan makna yang signifikan. Dengan perkataan lain, menggunakan Bahasa Inggris di manapun akan difahami secara umum, yang sedikit membedakan adalah gaya bicara dan logat berbahasa saja. Tapi menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu, seperti yang ditunjukkan pada contoh-contoh di atas, masih menimbulkan masalah besar; dan ini adalah tantangan bagi kita semua untuk mencari solusi dan jalan keluarnya.

Penerbitan jurnal SOSIOHUMANIKA, sebagaimana digagas oleh Pengurus ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) sejak tahun 2008, adalah merupakan salah satu upaya untuk saling memahami dan mengerti cara berkomunikasi ilmiah antara para Dosen dan Akademisi dari Indonesia dan Malaysia, serta dari negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara yang menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa ibunda, seperti di Brunei Darussalam, Singapura, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan. Karena itu sejak awal, pihak Redaksi menerima artikel-artikel dalam Bahasa Melayu dan tidak menterjemahkannya kedalam Bahasa Indonesia, kecuali harus menyertakan Abstrak dalam Bahasa Inggris agar bisa difahami substansi artikel tersebut oleh masyarakat luas. Begitu juga ketika para Dosen dan Akademisi dari negara-negara lain di Asia Tenggara, dan bahkan dunia, ingin mengirimkan artikelnya dalam Bahasa Inggris, pihak Redaksi menerimanya dengan senang hati.

Dari bulan Mei 2008, ketika jurnal SOSIOHUMANIKA ini pertama kali terbit, sampai bulan November 2014 ini, menurut pihak Redaksi, lebih dari 150 artikel ilmiah telah diterbitkan dan berasal dari berbagai negara, baik dari kawasan Asia Tenggara maupun dari kawasan lainnya di dunia. Ini tentu satu prestasi yang lumayan bagus, sebab menerbitkan sebuah jurnal ilmiah akan terletak pada konsistensi keberkalaannya. Memang tepat sekali, nama untuk sebuah jurnal di Indonesia adalah TBI (Terbitan Berkala Ilmiah), yang mengandung makna terbit secara berkala, teratur, dan tepat waktu; serta jangan pula diplesetkan artinya dalam Bahasa Jawa yang katanya, “wong namanya juga berkala ilmiah, iso kala-kala terbit lan kala-kala ora” (namanya juga berkala ilmiah, bisa kadang-kadang terbit dan kadang-kadang tidak terbit).

Pihak UNIPA, atau Universitas PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Adibuana, di Surabaya jelas menyambut gembira keberkalaan yang dijaga oleh Redaksi SOSIOHUMANIKA. Kami mau bekerjasama karena kesungguhan pihak Redaksi untuk menjadikan jurnal ini tidak hanya teratur terbit, tetapi juga menampung artikel-artikel dari berbagai negara, sehingga pemahaman kita tentang masalah-masalah pendidikan, sosial, dan budaya di seluruh dunia menjadi jembar dan luas. Selamat membaca artikel-artikel dalam jurnal SOSIOHUMANIKA dengan “Semangat Pagi”, dan salam dari civitas akademika UNIPA Surabaya.

Surabaya, Jawa Timur, Indonesia: 20 November 2014

SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan
Volume 7(2) November 2014


Andi Suwirta, M.Hum.
Pensyarah Kanan di Jabatan Pendidikan Sejarah UPI Bandung; dan
Rais Am ASPENSI di Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Pada hujung bulan November 2014 ini, Pengerusi ASPENSI (Asosiasi Sarjana Pendidikan Sejarah Indonesia) di Bandung nak menerima kunjungan rombongan daripada IPG (Institut Pendidikan Guru) Kampus Pendidikan Islam, Bangi, Selangor Darul Ehsan, Malaysia. Rombongan yang terdiri daripada Pensyarah, Siswa Guru, dan Cikgu Sekolah Rendah tersebut nak melakukan tanda aras (benck marking) ke Kampus UPI (Universiti Pendidikan Indonesia), khasnya kepada Sekolah Rendah “Labschool” UPI dan Jabatan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) di UPI Bandung.

Sepertimana dinyatakan oleh Pengarah IPG Kampus Pendidikan Islam bahawa aktiviti tanda aras ini merupakan program yang julung-julung kali diadakan; dan ini menunjukkan bahawa semua yang terlibatĀ  telah memainkan peranan sebagai guru berkualiti berlandaskan Standard Guru Malaysia. Tema “Pendidik Pemacu Transformasi Pendidikan, Agama, Bangsa, dan Negara”, yang dipilih bertepatan dengan gelombang transformasi pendidikan bagi penambahbaikan drastik pendidikan, akan dicapai agar sistem pendidikan Malaysia menjadi yang terbaik di dunia menjelang 2025. Mengikut Pengarah IPG pula bahawa halatuju daripada program ini adalah berharap supaya bakal guru dan murid yang dilahirkan akan menjadi modal insan alaf baru dari segi pegangan agamanya yang mantap, beretika, mahir dan cekap bersosialisasi dan berkomunikasi, berfikiran kreatif dan inovatif, tegas, dan efektif dalam kepimpinan serta membuat keputusan. Program seperti ini akan menghasilkan manafaat bagi semua yang terlibat dan akan menjadi model kepada yang lain.

Pada saya, mana-mana yang menyeronokan dalam program itu adalah bahawa sebanyak 23 kertas kerja telah dibuat oleh Pensyarah, Siswa Guru, dan Cikgu Sekolah Rendah; dan nak dibentang serta diterbit dalam jurnal akademik keluaran khas, isu Disember 2014. Ini adalah satu tanda aras dan pengajaran yang baik bagi Pensyarah, Pelajar, dan Cikgu daripada Indonesia memandangkan, setakat ini, belum banyak program serupa; atau bila ada pula ianya kurang dirancang secara betul serta lebih mengambil berat aktiviti “traveling” daripada “benck marking”. Pensyarah, Pelajar, dan Cikgu Sekolah Rendah menulis kertas kerja bukanlah perkara senang, diperlukan usaha dan kerja kuat, sama ada melalui latihan pensendirian mahupun ikut aktif dalam bengkel-bengkel yang dianjur oleh jabatan akademik, sehinggalah wujud satu konstruk minda yang lojik, sistematik, dan rasional dalam bentuk kertas kerja yang berkualiti.

Saya persendirian, selaku ahli Sidang Pengarang pada mana-mana jurnal akademik, ada pengalaman bahawa menjemput Pensyarah, Pelajar, dan Cikgu untuk menulis dan menghantar kertas kerja kepada jurnal yang saya tadbir adalah kurang memberangsangkan. Bila wujud satu dua Pensyarah pula yang nak menghantar, selalunya soalan yang dinyatakan adalah “Dah diiktiraf ke jurnal akademik ni oleh Ditjendikti Kemdikbud RI (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia?)”. Pada saya, peliklah soalan ni dan pening pula ahli Sidang Pengarang, ekoran tak banyak kertas kerja yang didapat memandangkan jurnal akademiknya belum diiktiraf oleh pihak Kementerian. Saya pikir polisi bersabit pengiktirafan jurnal akademik oleh pihak Kementerian adalah baik, supaya ianya boleh dikawal dari segi kualiti kandungan dan proses diseminasi sehinggalah boleh dibaca dan dirujuk oleh ramai ahli akademik. Tetapi bahawa Pensyarah, Pelajar, dan Cikgu di Indonesia setakat nak menghantar kertas kepada mana-mana jurnal yang diiktiraf sahaja oleh pihak Kementerian adalah satu masalah yang boleh membantutkan produktiviti karya-karya ahli akademik Indonesia.

Lantaran itu, jurnal-jurnal akademik yang dianjur dan diterbit oleh Minda Masagi Press, badan percetakan milik daripada ASPENSI di Bandung, mahukan dinaik-taraf tak setakat sebagai jurnal kebangsaan Indonesia, tetapi juga sebagai jurnal rantau Asia Tenggara. Ini bermaksud bahawa pihak Sidang Pengarang membagi laluan dan peluang kepada mana-mana ahli akademik, samada daripada Indonesia mahupun daripada luar negara, untuk menulis kertas kerja dan menghantarnya supaya boleh diterbit dalam jurnal akademik. Dan, alhamdulillah, sememangnya ini adalah satu pendekatan dan kaedah yang jitu, memandangkan jurnal-jurnal akademik yang dianjur dan diterbit oleh Minda Masagi Press, sehingga sekarang, tak kekurangan kertas kerja; dan boleh dibuat purata bahawa lebih daripada 70 peratus kertas kerja yang diterbit oleh jurnal-jurnal akademik yang dianjur oleh kami adalah datang daripada luar negara.

Kononnya, menganjur dan menerbit karya-karya akademik, samada jurnal mahupun buku, adalah satu amalan untuk melakar sejarah. Pada masa hadapan, ianya nak direkodkan dengan tinta emas bahawa pada satu masa, wujud satu pertubuhan atau individu yang ada kebolehan dan keupayaan untuk mentadbir sebuah karya akademik. Sememangnya, membantu ahli akademik daripada mana-mana negara supaya minda dan dapatan penyelidikannya diterbit adalah pula satu amalan yang ilmiah dan satu ilmu yang amaliyah. Sejarah adalah apa-apa saja yang berlaku pada masa lalu; dan apa yang berlaku pada masa kini (termasuklah wujudnya jurnal akademik) nak menjadi sejarah di masa hadapan.

Akhir sekali, saya merakamkan berbanyak terima kasih kepada pihak UNHAS (Universiti Hasanuddin) di Makassar dan UNIPA (Universiti PGRI Adibuana) di Surabaya kerana sudi kongsi dan usaha sama dalam menganjur jurnal SOSIOHUMANIKA. Harap usaha sama ini boleh kekal berterusan dan maju jaya hingga bila-bila masa.

Bandung, Jawa Barat, Indonesia: 20hb November 2014


SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan
Volume 7(2) November 2014

Tibetan Opera: A History.

Diplomasi dan Ekspedisi Militer Belanda terhadap Tiga Kerajaan Lokal di Sulawesi Selatan, 1824-1860.

Analisis Teoritik tentang Etnopedagogi Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Wahana Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di Perguruan Tinggi.

Humane Euthanasia in Farm-Raised Foxes.

Konflik antar Elite Politik Lokal di Sulawesi Selatan: Sebuah Perspektif Sejarah.

Tsunami dan Impaknya ke atas Negara Persisiran Lautan Pasifik.

Language Psychology Approach on Language and Literature’s Learning Process: A Model to Educate the Nation.

Pengembangan Konsep Pendidikan Multibudaya Melalui Gemar Belajar, Kreatif, Mandiri, dan Berbudi Pekerti Luhur untuk Membentuk Jiwa Wirausaha di Indonesia.

Peranan Budaya Tudang Sipulung/Appalili dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bergesernya Nilai Budaya Pertanian di Sulawesi Selatan.

Stakeholder Analysis of Mangrove Management in Tangerang Coastal District, Banten, Indonesia.

Menjadikan Lembaga Pendidikan sebagai Wadah Pembinaan Bahasa Daerah: Kajian terhadap Pembinaan Bahasa Sunda di Lembaga Pendidikan Kota Bandung.

Pengembangan Model Simulasi Sosial pada Pembelajaran PKn Konteks IPS: Upaya Meningkatkan Sikap Demokratis Peserta Didik.

Globalization and its Implications for the Field of Education in Indonesia: Between Challenge and Response.


About the SOSIOHUMANIKA Journal:

sosio nov 7-2 ovember 2014 1

SOSIOHUMANIKA: Jurnal Pendidikan Sains Sosial dan Kemanusiaan is an humanities and social sciences educational journal published by Minda Masagi Press, a publisher owned by ASPENSI (the Association of Indonesian Scholars of History Education) in Bandung. SOSIOHUMANIKA journal, with ISSN 1979-0112, was firstly published on May 20, 2008 in the context to commemorate One Millennium of National Awakening Day in Indonesia. This journal is published twice a year in May and November.

The SOSIOHUMANIKA journal is national (Indonesian) as well as regional (Southeast Asian), academic, citation indexed, and peer reviewed journal which covers especially the original research articles (10-15 pages). The aim of this journal is to provide a venue for academicians, researchers and practitioners to share/discuss theories, views, research results, on issues related to Humanities and Social Sciences Education, including Culture, Language, Art, Law, Economic, Government, and Political sciences. However, any other articles related to non- Humanities and Social Sciences Education issues are also welcome.

The authors are able to write the articles for SOSIOHUMANIA journal in English as well as in Indonesian and Malay languages. For sending the articles, it encourages you to submit via e-mail address at: and

Since issue of May 2014 to date, the SOSIOHUMANIKA journal has jointly been organized by the Lecturers of LP2M UNHAS (Research Institute and Community Service, Hasanuddin University) in Makassar, South Sulawesi; and the Lecturers of PPs UNIPA (Postgraduate Program, University of PGRI Adibuana) in Surabaya, East Java, Indonesia.

For further information about the SOSIOHUMANIKA journal, including Guideline for the Author, Current and Back Issues, you are able to view it at:

For searching another academic journals published by Minda Masagi Press, you are able also to visit them at:,,, and

For Indonesian scholars, it is important to declare here that the SOSIOHUMANIKA journal has been accredited by Ditjendikti Kemdikbud RI (Directorate-General of Higher Education, Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia) for period 2013 to 2018. More information about the result of accreditation, you can view it at the DIKTI website: at the ASPENSI website:

The SOSIOHUMANIKA journal and other academic journals published by Minda Masagi Press in Bandung have also been displayed or stored and cited by Partner Institutions, such as: Islamic World Sciences Citation Center in Tehran, Iran; MyCite or Pusat Sitasi Malaysia in Putrajaya, Malaysia; Library of MoE (Ministry of Education) Malaysia in Putrajaya; National Library of the Republic of Indonesia in Jakarta; Library of PDII-LIPI (Center for Indonesian Information and Documentation – Institute of Indonesian Sciences) in Jakarta; Library of Kemdikbud RI (Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia) in Jakarta; Library of Direktorat Ditlitabmas Ditjendikti Kemdikbud RI in Jakarta, Indonesia; Regional Library and Archives of West Java in Bandung, Indonesia; Library of UMP (Muhammadiyah University of Purwokerto) in Central Java, Indonesia; Library of UNSUR (Suryakancana University) in Cianjur, West Java, Indonesia; Library of UVRI (Veteran University of the Republic of Indonesia) in Makassar, South Sulawesi, Indonesia; Library of UBD (University of Brunei Darussalam) in Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam; Library of MoE Brunei Darussalam in Bandar Seri Begawan; Library of PERTANIKA Journal in UPM (Putra University of Malaysia) in Serdang, Malaysia; Library of UNJ (State University of Jakarta) in Indonesia; Library of KITLV in Jakarta, Indonesia; Library of IKIP PGRI Madiun in East Java, Indonesia; Library of Kanjuruhan University in Malang, East Java, Indonesia; Library of UMMI (Muhammadiyah University of Sukabumi) in West Java, Indonesia; Library of IKIP PGRI Indraprahasta in Jakarta, Indonesia; Library of UNHAS (Hasanuddin University) in Makassar, South Sulawesi, Indonesia; Library of UNIPA (University of PGRI Adi Buana) in Surabaya, East Java, Indonesia; STKIP (College of Education and Teacher Training) Pasundan in Cimahi, West Java, Indonesia; ALSAFIRA Science at; Google Scholar Citations at:; and ASPENSI in News & Views at:


Read More